Niat dan proses engga sejalan.
Anda berniat dari Jakarta mau ke Surabaya. Pasti ada prosesnya. Anda harus tentukan, apakan naik kereta atau pesawat atau bus atau kendaraan pribadi. Terus tentukan anggaran. Beli tiket kalau naik angkutan umum. Atau bayar toll kalau naik kendaraan pribadi. Dan terakhir action. Nah kalau niat doang tanpa ada rencana konkrit. Pasti engga ada niat pula action. Itu hanya omong doang. Lebih buruk dari sekedar mimpi.
Kita berniat membangun 3 juta rumah. Itu targetnya untuk rakyat miskin. Tidak ada rencana soal penegakan hukum atas program cross subsidi atas pembangunan Kawasan rumah mewah. Kalau ditagih, kan anggaran 3 juta rumah bisa terpenuhi. Yang ada justru mau ambil tanah sitaan kejaksaaan. Itu kan sama aja BMN. Sama saja dengan APBN. Engga bisa main ambil begitu saja. Ada proses lelang yang rumit.
Kalaulah tidak berani menegakan hukum atas aturan cross subsidi. Ya udah. Negara intervesi lewat APBN. Itupun tidak ada rencana program stimulus terhadap program itu. Yang terdengar sibuk aja minta dana bantuan dari luar negeri. Itu engga jelas. Mana ada bantuan gratis.
Kita berniat mau bangun swasembada pangan. Tidak ada rencana perubahan tataniaga pertanian. Padahal yang membuat pertanian degrowth terhadap PDB karena tataniaga merugikan petani. Yang ada malah rencana mau buka lahan pertanian baru lewat estate food. Ini kotraproduksi terhadap konsep MSG.
Mengapa ? estate food itu sudah jadul. Karena merugikan ekologi dan berdampak kepada perubahan iklim. Sementara kita sudah ratifikasi zero emisi Paris. Mengapa tidak revitaliasi lahan pertanian yang ada lewat riset bibit dan tekhnologi tanam agar produks meningkat. Pada waktu bersamaan ubah tataniaga pertanian. Lakukan itu kalau memang ada niat.
Kita punya niat membangun hilirisasi pertanian dan Mineral tambang. Tapi tidak ada aturan quota ekspor mineral tambang agar downstream mineral tambang tumbuh berkembang sampai kepada konsumen akhir. Yang ada malah hilirisasi untuk mendukung supply chain industry downstram di luar negeri.
Hilirisasi pertanian. Juga tidak ada rencana konkrit. Misal, cobalah buat rencana bangun industry fiber dari produk pertanian sebagai pengganti kapas untuk teksti. Sehingga pabrik tekstil kita engga lagi tergantung impor fibet dan kapas dari luar negeri. Bangun industry API dari alga agar pabrik pharma engga lagi impor dari luar negeri.
Ah sudah lah. Capek hati..