kuasai sumberdaya yang menang

Arsip Terupdate
Kuasai sumberdaya yang menang Kemarin usai meeting di safehouse, saya ajak Yuni makan malam. “Apakah Prabowo lemah?” tanya Yuni pelan tapi menusuk, seakan menguji intuisi saya. Saya tersenyum kecil, menatapnya dengan nada tenang. “Kamu naif banget, Yuni. Udah jadi CFO tapi politik masih lugu. Setidaknya logika bisnis pakailah dalam menilai fenomena politik. Esensinya bisnis dan politik itu sama saja: siapa yang menguasai sumber daya, dia yang menang.” Yuni merapatkan blazer dengan pin Yuan yang ia kenakan. “Ya sudah, jawab aja pertanyaan Yuni.” Saya mencondongkan tubuh, menekankan kalimat demi kalimat seakan sedang menjelaskan laporan keuangan yang rumit. “Keliatan lemah dan kadang terkesan bercanda? Ya, benar. Tapi sejatinya, dia cerdas. Dia sangat paham medan permainan.” Yuni menaikkan alis. “Oh ya? Apa maksud uda ?” Saya menarik napas, menautkan jari di atas meja. “Politik oligarki itu mesin. Dan mesin hanya bergerak kalau ada bahan bakarnya. Nah, bahan bakar itu sekarang dikunci Prabowo.” Empat Bahan Bakar Oligarki “Fuel oligarki ada empat: BUMN, judol, PSN, dan APBN. Perhatikan baik-baik. 1. BUMN. Dulu dikuasai jaringan lama, sekarang sudah dikunci Danantara. Keputusan-keputusan strategis ada di presiden. PLN dan Pertamina? Direksinya orang Gerindra. Business capture dari oligarki lama, dia lucuti lewat kasus pengadaan BBM dan RUU kelistrikan. Bank-bank BUMN yang dulu gampang diakses oligarki, sekarang nggak bisa lagi. Semua kunci di Danantara, alias presiden. 2. Judol. Tadinya sumber gelap oligarki. Sekarang? Proxy pindah. Ditarik langsung ke presiden. Semua akses dikontrol. 3. PSN. Dia tunjuk AHY jadi Menko. Bukan bagian dari gank lama, bahkan oposisi di era Jokowi. Loyalitasnya jelas ke Prabowo. 4. APBN. Hak budget DPR dilucuti. Sekarang buka-tutup anggaran ditentukan presiden lewat Sekneg. “ Saya berhenti sejenak, membiarkan kata-kata itu tenggelam di benak Yuni. Yuni mengangguk lambat, wajahnya mulai memahami. “Artinya, walau kabinet sebagian besar orang Jokowi, itu useless ya? Jabatan tanpa sumber daya jadi kosong makna.” Saya tersenyum tipis. “Tepat. Bahkan uang receh aja dikunci. Uang suap ketenagakerjaan misalnya, dia penggal jalurnya—hasilnya Noel masuk bui. Anggaran pendidikan? Dia tekan dengan mengkasuskan Nadiem Makarim, supaya jaringan lama juga terhantam. Semua pintu rente dipasangi kunci.” Ruang meeting itu mendadak sunyi. Hanya terdengar detak jam dinding. Yuni menunduk, mengetuk pelan meja dengan jarinya. “Oh, paham sekarang.” katanya lirih. Lalu ia mendongak, menatap saya dengan senyum tipis penuh arti. “Politik ternyata sama persis dengan laporan keuangan. Yang penting bukan siapa duduk di kursi direksi, tapi siapa yang kontrol cashflow.” Saya tertawa pelan. “Nah itu. Politik tanpa bahan bakar sama saja dengan jabatan kosong. Dan Prabowo tahu betul cara menjaga tangki bahan bakarnya.” “ Duh itu sama saja. Tikus disuruh berenang di baskom. Capek berendam, ya tenggelam “ kata Yuni “ pasti deh mereka pada kesel sama Prabowo “ lanjut Yuni Saya senyum aja sambil menatap Yuni, leher nya putih banget rasanya pengen peluk duh… tobat dah