off take

Arsip Terupdate
off take Kemarin saya ketemu dengan teman. Dia sudah punya satu smelter dan ingin ekspansi satu smelter lagi. Dia perlu pembiayaan US$1,2 miliar hingga US$1,4 miliar untuk kapasitas feasible. “ Dengan syarat gua offtake 100% produksinya. “Kata saya cepat. Maklum saya pedagang dan memang butuh sumber daya mineral. Misal, saya offtake Pig Iron dan atau ferro steel sebesar USD 5 miliar untuk 5 tahun. Atas dasas SPA (Sales Purchase Agreement), saya akan keluarkan jaminan pembelian sebesar USD 5 miliar dalam bentuk SBLC. Dan pada waktu bersamaan dia juga keluarkan supply guarantee sebesar USD 5 miliar dalam bentuk SBLC. Jaminan itu hanya bersifat unsecure atau off balance sheet. . Kalau saya gagal membayar setiap pengapalan atau tidak melakukan pembelian, maka jaminan itu dicairkan. Sebaliknya kalau dia gagal delivery, jaminan dia saya cairkan. Selagi kedua belah pihak komit, ya jaminan aman. Fair enough. “ Berapa lama financial closing nya ? tanyanya. “ Tergantung” kata saya cepat. “ Tergantung apa ? “ Tergantung berapa lama kamu bisa siapkan supply guarantee dalam bentuk financial guarantee dari bank. “ Kata saya. “ Ah lue sama aja dengan China. Ngakunya investor sebenarnya pedagang. Kenapa engga direct investment aja.” Saya senyum aja. Maklum. Dengan skema itu, pengusaha smelter bisa dapatkan Non Recourse loan (NRL) dengan LTV sebesar 70% dari total project funding. Bank aman. Karena NRL itu disamping dijamin proyek itu sendiri , juga ada SBLC off take gurantee dari pembeli. Tetapi pada waktu bersamaan bank juga memberikan non cash loan berupa SBLC untuk supply guarantee. Akibatnya neraca bank jadi ketat sekali. Makanya kemarin BI menggelontorkan insentif makroprudensial Rp165 triliun. Dalam bentuk pelonggaran atas kewajiban pemenuhan giro wajib minimum (GWM) dalam rupiah. “ Skema seperti lue itu mengakibatkan outstanding pernbankan dalam negeri dalam bentuk NCL semakin besar. Itu sama saja semua resiko ada pada bank dalam negeri. Lue aman. Dapatkan barang dengan harga diskon. Belum lagi semua barang modal berupa mesin dari lue, lue dapatkan lagi untung jual mesin dan tehnologi.” Katanya. Saya senyum aja. “ Gua engga bisa direct investment karena penambangan Indonesia itu paling jorok di dunia. Tidak ada kepedulian terhadap ramah lingkungan. Dari smelting yang polutan sampai kepada penambangan yang degradasi lingkungan. Dan duit gua kan dari bank di luar negeri yang jadi hub trade financing gua. Mereka ketat sekali soal ESG. “ Kata saya berargumen. Sekedar meyakinkan bahwa hilirisasi itu sebenarnya menjarah perbankan dalam negeri. Makanya pejabat yang terhubung sebagai pengusaha tambang dan smelter paling kencang bela hilirisasi, Karena mudah banget jarah bank, apalagi Bank BUMN. Dan trader mineral tambang seperti gua di untungkan karena pengusaha tambang lokal umumnya bukan international class. Mereka hanya jago elus telor pejabat dengan mindset rente. Jadi mudah begoin mereka. Nikmat mana lagi yang didustakan di era Jokowi. Yang bokek hanya pemuja dan onani doang.