Kualitas pembangunan

Arsip Terupdate
Dalam menilai kualitas ekonomi, angka pertumbuhan saja tidak cukup. Ada indikator yang lebih jujur yaitu electricity per worker—jumlah listrik yang digunakan per tenaga kerja. Ini mencerminkan seberapa dalam sebuah ekonomi menggunakan mesin, teknologi, dan sistem produksi. Indonesia, konsumsi listrik: ±1.300 kWh per kapita. Tenaga kerja: ±140 juta. PDB: ±USD 1,4 triliun. Electricity per worker: ±3.500–4.000 kWh. GDP per worker: ±USD 10.000. Nah mari kita bandingkan dengan Malaysia saja. Konsumsi listrik: ±4.800 kWh per kapita. Tenaga kerja: ±16 juta. PDB: ±USD 400 miliar. Electricity per worker: ±9.000–10.000 kWh. GDP per worker: ±USD 25.000. Apa makna dengan adanya perbedaan itu? Malaysia menggunakan listrik sekitar 2,5 kali lebih besar per pekerja, dan menghasilkan output ekonomi sekitar 2,5 kali lebih tinggi. Ini menunjukkan hubungan langsung antara energi dan produktivitas. Malaysia itu berinvestasi untuk meningkatkan produksi. Mengapa ? Secara teknis, listrik adalah proxy dari capital deepening—seberapa besar tenaga kerja didukung oleh mesin dan teknologi. Semakin tinggi listrik per pekerja, semakin tinggi produktivitasnya. Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia masih didominasi model labor-intensive yang ditandai dengan tenaga kerja banyak, energi rendah, produktivitas terbatas. Ya growth luas, tapi dangkal. Ya sedikit terbelakang. Bukan karena bodoh tetapi dunguk. Sementara Malaysia sudah machine-driven. Butuh energi tinggi karena industri kuat dan nilai tambah besar. Otomatis growth dalam dan produktif. Implikasinya jelas. Produktivitas menentukan tingkat upah, daya saing industri dan ketahanan ekonomi. Bukan jumlah tenaga kerja. Listrik bukan sekadar energi, tetapi cerminan kualitas ekonomi. Selama energi per pekerja rendah, pertumbuhan akan terbatas. Namun ketika energi meningkat, produktivitas naik—dan di situlah ekonomi mulai berubah kelas. Jadi engga perlu ruwet menilai kinerja pemerintah. Gua mau buat perbandingan dengan China atau India, tetapi engga tega. Ketahuan banget kita dunguk. Merasa hebat dalam retorika tapi miskin kinerja dan rendah visi mengelola negara secara modern.