Defisit

Arsip Terupdate
“Ale, kenapa rupiah melemah?” tanya Herman. “Ya karena APBN defisit dan current account juga defisit. Twin deficit itu posisi serba salah. Kurangi belanja, growth bisa turun. Tambah belanja, defisit makin melebar,” jawab saya. “Ya maksudnya gimana?” Herman masih terlihat bingung. Terlalu jauh baginya memahami makro ekonomi. “Gini ya,” saya mencoba menjelaskan sederhana. “Anggap perusahaan lo lagi rugi. Pengeluaran lebih besar dari pendapatan. Walaupun aset besar, tapi cash flow negatif,” kata saya memberi analogi. “Ya tinggal ngutang lagi ke bank. Kan asetnya besar,” jawab Herman. “Benar, tapi sekarang bank tidak mudah kasih pinjaman. Bank bukan lembaga pegadaian. Mereka lihat cash flow,” jawab saya cepat. “Kalau kemampuan menghasilkan laba lemah dan cash flow negatif, otomatis nilai aset ikut turun. Dalam konteks negara, itu tercermin di kurs yang melemah. Paham?” Herman terdiam, lalu mengangguk pelan. “Ini biang keroknya karena perang Teluk,” kata Herman lagi. “Kira-kira perang bisa panjang nggak?” “Perang itu butuh biaya. USA dan Israel hidup dari utang. Investor belum tentu melihat perang sebagai sesuatu yang menguntungkan secara ekonomi. Apalagi kalau Selat Hormuz terganggu, dampaknya besar ke bisnis dan likuiditas global. Di kondisi seperti ini, mereka tetap harus menarik utang untuk menutup kebutuhan anggaran pada Q2. Pertanyaannya, apakah investor akan tetap menyerap utang itu dengan mudah?” “Bagaimana dengan Iran?” tanya Herman. “Iran itu sudah lama di-embargo dari sistem keuangan internasional. Mereka tidak bergantung pada utang luar seperti negara lain. Jadi mereka bertahan dengan kondisi yang ada. Diserang, ya membalas. Tidak diserang, ya tetap jalan seperti biasa dalam tekanan. Berat, tapi mereka sudah terbiasa,” jawab saya. “ jawaban Lue rasional sekali. “ kata Herman mengangguk “ Jadi kapan perang berhenti tergantung AS ya?” tanya Herman. Saya hanya mengangguk. --- Setelah Herman bertanya, David menimpali,“Ale, menurut berita, BlackRock mempertanyakan pembayaran bunga yang sudah di atas 15% dari APBN. Maksudnya apa itu?” Saya hanya tersenyum. Padahal David lulusan S2 dari Singapura. Secara teori dia paham, tapi menerjemahkannya ke analisa praktis mungkin belum terbiasa. “Dalam ekonomi itu disebut DSR (debt service ratio),” jawab saya. “Kalau dilihat dari total pendapatan negara, DSR sudah di atas 15%. Kalau dilihat hanya dari penerimaan pajak, bisa sekitar 25%.” “Maksudnya apa itu?” tanya Herman. “Gini,” kata David mencoba menjelaskan. “Dari total pendapatan perusahaan lo, sekitar 15% dipakai hanya untuk bayar bunga. Tapi kalau dihitung dari omzet penjualan saja, bisa sampai 25% habis untuk bunga.” “Ya tekor dong,” kata Herman spontan. “Makanya lembaga seperti BlackRock mulai mempertanyakan itu,” lanjut David. Herman langsung menyambung, “Wah, itu sama saja BlackRock ogah kasih pinjaman. Seperti kita cerita prospek bisnis ke bank, tapi bank tetap lihat data. Ujung-ujungnya keluar surat, maaf, kredit ditolak.” Saya hanya tersenyum. “Ale, apa nggak ada orang di pemerintah yang ngerti seperti ini?” tanya David. “Ya mereka tahu, bahkan lebih pintar dari saya,” jawab saya. “Masalahnya bukan di teori. Mereka paham. Tapi menerapkan teori dalam praktik itu tidak mudah. Apalagi kalau mindset-nya sudah terbiasa cari jalan yang paling gampang. Tidak terbiasa disiplin dan focus mengelola cash flow."