Basis Uang

Arsip Terupdate
“Gimana menjelaskan fenomena ekonomi sekarang yang terasa lesu—cari uang makin sulit, dan saat dapat pun terasa tidak bernilai?” tanya Mona. Dia sebenarnya sarjana ekonomi namun karena aktivitas bisnisnya membuat dia sepertinya melupakan ilmu ekonomi. Saya tersenyum. “Dalam teori ekonomi, ada persamaan sederhana. Income = Consumption + Saving atau I = C + S. Artinya, setiap uang yang kamu terima—baik dari gaji, bonus, atau keuntungan bisnis—akan terbagi menjadi dua yaitu dipakai untuk konsumsi (C) dan sisanya ditabung (S). Itu rumus keseimbangan dasar dalam ekonomi.” Mona mengangguk pelan. “Kalau kita tarik ke kerangka moneter,” lanjut saya, “income itu berasal dari basis uang dalam sistem, yang dalam ekonomi disebut M0 (monetary base)—uang yang dicetak Bank Indonesia. Ketika uang itu masuk ke tangan masyarakat dan dipakai untuk transaksi, ia menjadi M1—uang likuid yang aktif beredar. Sementara bagian yang tidak dibelanjakan dan disimpan dalam bentuk tabungan atau deposito masuk dalam kategori M2.” Mona terlihat mulai memahami, tapi saya lanjutkan dengan pendekatan yang lebih analitis. “Sekarang kita lihat dengan logika ekonometrik sederhana. Misalnya fungsi konsumsi,C = a + bY, di mana Y adalah income, a adalah konsumsi minimum, dan b adalah kecenderungan mengonsumsi (marginal propensity to consume). Artinya, kalau income turun—misalnya karena PHK atau omzet bisnis melemah—maka secara teori konsumsi juga akan turun. Tapi dalam kenyataan sekarang, itu tidak sepenuhnya terjadi.” “Kenapa?” tanya Mona. “Karena konsumsi ditopang oleh kredit. Jadi secara empiris, fungsi konsumsi berubah menjadi, C = a + bY + dK, di mana K adalah kredit. Artinya, walaupun income turun, konsumsi bisa tetap bertahan karena orang berutang—baik lewat pinjol maupun kredit bank. Inilah yang membuat M1 tetap tinggi, meskipun M0 atau income riil menurun. Sementara itu, karena orang menutup kekurangan dengan tabungan, maka M2 bisa menurun.” Saya menyeruput kopi sejenak. “Akibatnya apa? Terjadi ketidakseimbangan. Uang beredar (M1) meningkat bukan karena produksi atau peningkatan output, tapi karena dorongan konsumsi berbasis utang. Dalam kerangka kuantitas uang: MV = PY, kalau M (uang beredar) naik tapi Y (output riil) tidak naik, maka P (harga) akan naik—itulah inflasi. Harga terasa mahal, daya beli turun, dan tekanan terhadap nilai tukar meningkat.” Mona terdiam. “Jadi,” saya tutup pelan, “bukan cuma karena uang sedikit, tapi karena struktur uangnya berubah. Uang tidak lagi berasal dari produksi, tapi dari utang. Dan itu membuat hidup terasa makin berat, walau uang seolah masih beredar.” Kata saya. “ Tapi kata BPS, inflasi bulan ini hanya 3,48 %. Rendah sekali,” kata Mona. Saya tersenyum tipis. “Angka itu benar, tapi harus dibaca dengan konteks. Dalam ekonomi, inflasi memang diukur secara metodologis—baik month to month maupun year on year. Ada juga yang disebut inflasi inti (core inflation), yaitu komponen harga yang relatif stabil, dan inflasi volatile, seperti pangan dan energi, yang lebih bergejolak. Pemerintah biasanya fokus pada angka agregat ini karena menjadi acuan kebijakan.” Mona mengernyit. “Masalahnya,” lanjut saya, “angka inflasi itu berbasis indeks—dibandingkan dengan periode sebelumnya, bukan terhadap daya beli jangka panjang. Jadi, meskipun inflasi terlihat rendah secara statistik, bukan berarti harga itu murah atau daya beli membaik. Bisa saja harga sudah tinggi sejak awal, lalu kenaikannya melambat—itulah yang membuat inflasi terlihat kecil.” Saya menyeruput kopi. “Dalam praktiknya, ada perbedaan antara inflasi terukur dan inflasi yang dirasakan. Yang pertama dihitung dengan metodologi baku oleh lembaga statistik. Yang kedua adalah pengalaman nyata masyarakat—terutama pada kebutuhan sehari-hari yang porsinya besar dalam pengeluaran. Jadi ketika orang merasa hidup makin mahal, itu bukan berarti datanya salah, tetapi karena komposisi konsumsi tiap orang berbeda dan tidak selalu identik dengan keranjang inflasi resmi.” Mona mengangguk pelan. “Jadi intinya,” saya menutup, “angka inflasi itu penting sebagai panduan, tapi bukan satu-satunya kebenaran. Realitas ekonomi tetap harus dibaca dari apa yang benar-benar terjadi di lapangan—di dapur, di pasar, dan di dompet kita.” Mona terdiam. “ Ale, minta tolong bilang ke Awi, gua minta tambah dong biji plastic. “ kata Mona kemudian. “ Engga ngerti gua. Lue ngomong aja langsung.” “ Awi tolak gua minta tambah. Katanya harga engga jelas. Naik terus.” Kata Mona. Saya senyum aja. Ya dia beli ngutang 3 bulan Pas dia bayar harga udah naik dan engga bisa lagi beli dengan harga tiga bulan lalu. Itu sama aja tekor. Teman sih teman cantik sih cantik, tapi bisnis ceritanya lain.