Desember 2025, Esther datang ke Jakarta. Ale dan Esther sudah bersahabat sejak usia mereka dibawah 30 tahun. Kini usia mereka kepala 6. Namun persahabat tetap terjalin. Sejak tahun 1996 Esther berkarir di Hong Kong sebagai banker.
“Kau sedang memandangi IHSG?” tanya Esther sambil menutup pintu ruang kerja di Safe house, suaranya datar seperti ruang rapat bank sentral. Ia tahu indeks sering kali lebih berfungsi sebagai narasi kolektif ketimbang refleksi fundamental, sebagaimana lama dikritik Shiller dalam studinya tentang harga aset dan cerita pasar.
Ale tersenyum tipis. “Aku tidak melihat indeksnya,” jawabnya. “Aku melihat peran yang sedang ia mainkan sebagai penenang sistem di fase akhir siklus, seperti yang dijelaskan Minsky ketika stabilitas justru melahirkan ilusi keamanan”.
Esther mendekat dan melirik layar. “ Naiknya sempit,” katanya. “Saham berbobot besar. Breadth menyempit. Ini textbook index-driven rally, bukan pemulihan pasar, persis seperti yang Borio sebut sebagai financial cycle yang terlepas dari ekonomi riil”
Ale menggeser tampilan ke data likuiditas. “ Ketika likuiditas mengetat,” katanya, “kredit ke sektor riil melambat. UMKM tertekan lebih dulu—itu mekanisme klasik credit channel yang dijelaskan Bernanke dan Gertler”
“Sedangkan korporasi besar,” Esther menyambung, “tidak mati. Mereka pindah ke pasar modal, mengikuti logika pecking order Myers dan Majluf, ekuitas dimaksimalkan saat valuasi bisa diangkat”
“Dan di situlah mark-to-market bekerja,” kata Ale pelan. “Fair value naik, ekuitas tampak membaik, leverage turun secara akuntansi. Sebuah efek yang sah menurut IFRS 13, tapi berbahaya jika dilepaskan dari arus kas”.
Esther menarik kursi dan duduk. “ Jadi indeks ini,” katanya sambil menunjuk layar, “bukan indikator pertumbuhan, melainkan bantalan neraca. Shock absorber yang memperkuat collateral multiplier seperti dijelaskan Brunnermeier”.
“Benar,” jawab Ale. “Ia menunda rasa sakit, tapi menumpuk risiko, persis seperti yang diperingatkan Borio tentang stabilisasi yang justru pro-siklikal”. Ia menampilkan diagram sederhana. Likuiditas ketat, kredit riil melambat, laba stagnan, valuasi aset dinaikkan, NPL tertahan.
“Loop tertutup,” kata Esther. “Balance sheet recession dalam versi modern, seperti Jepang yang dianalisis Koo”.
“Dan resolusi selalu ditunda,” tambah Ale, “karena pengakuan kerugian terlalu mahal secara fiskal dan politik, seperti dicatat Reinhart dan Rogoff dalam sejarah krisis keuangan”.
Esther menatap grafik NPL. “ Semua orang masih melihat rasio ini,” katanya. “Padahal kita tahu NPL itu lagging indicator. IMF sendiri mengakuinya dalam Global Financial Stability Report”.
“Alarmnya ada di tempat lain,” jawab Ale. “Relaksasi kredit yang diperpanjang, restrukturisasi berulang, itu tanda hidden impairment dan zombie lending, seperti yang disorot BIS dan Laeven-Valencia”
“Coverage ratio memang tinggi,” Esther melanjutkan, “tapi sumbernya trading gain. ECB sudah lama memperingatkan penurunan earning quality seperti ini”
Ale mengangguk. “ Dan concentration risk meningkat—debitur besar di-roll, kredit kecil diputus. Basel sudah menganggap ini sebagai large exposure problem”
Esther membuka laptopnya. Ia mengalihkan pembicaraan ke indikator risiko. “Masalahnya mengerucut ke IFRS 9,” katanya. “Expected Credit Loss terdengar preventif, tapi sangat tergantung asumsi makro dan definisi significant increase in credit risk”
“Selama relaksasi berlaku,” Ale menimpali, “kredit bisa bertahan di Stage 1 atau 2. CKPN rendah. Laba tetap cantik.”
“Padahal secara ekonomi,” Esther menatap layar, “kredit itu sudah distressed. Ini evergreening, persis yang dianalisis Caballero, Hoshi, dan Kashyap dalam kasus Jepang”.
Ale menatap kembali grafik IHSG. “ Indeks ini jadi variabel sistemik,” katanya. “Begitu turun 15–20 persen. Haircut naik, stage migration massal, CKPN melonjak. Itulah pro-siklikalitas yang sudah lama diperingatkan Borio”.
“Dan saat itu,” Esther menyambung, “ini bukan lagi risiko bank per bank. Ini systemic risk dalam definisi Acharya, semua jatuh bersama”
Mereka terdiam.
“Paradoksnya,” kata Esther pelan, “laba bank masih bisa naik meski kredit stagnan.”
“Karena bergeser ke non-interest income dan SBN,” jawab Ale.
“IMF menyebut laba seperti ini rapuh dan tidak likuid saat krisis”
Esther menutup laptopnya. “ Jadi semua ini hanyalah buying time.”
Ale mengangguk perlahan. “ Seperti kata Minsky, stabilitas jangka pendek selalu dibayar dengan ketidakstabilan jangka panjang”.
Di luar ruangan, IHSG masih hijau. Di laporan resmi, rasio masih rapi. Namun di balik dialog itu, keduanya tahu bahwa risiko tidak pernah hilang. Ia hanya dikorelasikan, menunggu satu momen untuk jatuh secara bersamaan.