Antisipasi kebijakan tarif
Soal kebijakan tarif resiprokal itu udah jadi issue sejak awal Trump mencalonkan diri sebagai presiden dan dinyatakan lagi saat dia resmi presiden elected. India langsung pro aktif melobi elit Trump untuk dapatkan keringanan tarif. Padahal India negara besar secara ekonomi setelah china. India bisa melihat issue dari perspektif jernih. Vietnam juga lakukan hal yang sama. Sehingga walau tarif ditetapkan lumayan tinggi namun ada kemungkinan turun dalam putaran negosiasi.
Saya tidak mendengar upaya Indonesia melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh India dan Vietnam. Malah Indonesia semakin mesra dengan BRICS. Lebih konyol lagi kita secara terbuka menjalin kemitraan secara luas dengan china. Masalahnya walaupun nilai perdagangan kita dengan AS rendah atau hanya 10% dari total ekspor namun sebagian besar industri padat karya kita mengandalkan pasar AS. Kan engga mungkin kita jual ke China. Pasti kalah bersaing. Kecuali produk mineral tambang. Dan itu non tradable.
Nah apa jadinya kalau industri padat karya pada tumbang dan phk melanda. Apakah kita hanya focus ke china saja agar konglomerat tambang selamat dan masa bodo dengan industri padat karya yang harus lakukan PHK ? Atau yakin pasti sudah tersedia lapangan kerja pengganti untuk mereka yang kena PHK! ? Jangan omon omon. Ini soal perut. Kalau engga yakin bisa hadapi, sebaiknya segera antisipasi. Bukan dengan langsung kirim team untuk nego dengan trump tetapi buat rencana konkrit untuk meyakinkan Trump bahwa kita siap berunding secara terbuka.
Jadi pemerintah harus lakukan langkah perbaikan tarif yang dianggap barier oleh AS. Seperti menurunkan tarif impor barang AS dan menyederhanakan prosedur impor, menghapus keharusan local contain yang selama ini tidak efektif, kebijakan moneter dan non moneter yang distorsi terhadap devisa bebas. Nah setelah lakukan itu, tidaklah sulit untuk berunding. Apalagi Trump itu latar belakang business man. Tujuannya memang mengajak negara lain berbisnis, bukan perang dagang.
--
Menurut hitungan AS bahwa Indonesia yang mengenakan tarif 64% kepada barang impor AS. Maka dikenai tarif balasan 32%. Yang jadi pertanyakan adalah bagaimana hitungannya sampai ketemu angka 64%? Padahal rata rata tarif impor barang dari AS hanya berkisar 8-9%. Katanya berdasarkan rumus : defisit perdagangan AS terhadap Indonesia dibagi dengan total ekspor Indonesia ke AS. Sepertinya cocok logi. Terkesan menyederhanakan.
Karena data rincian hitungan tarif kepada negara lain lebih jelas seperti China, tarif timbal balik 34%, di samping tarif eksisting 20%, sehingga totalnya menjadi 54%. Vietnam, Tarif Tambahan (Timbal Balik): 46%. Tarif Dasar: 10%. Total Tarif: 10% + 46% = 56%. Uni Eropa. Tarif Tambahan (Timbal Balik): 20%. Tarif Dasar: 10%. Total Tarif: 10% + 20% = 30%. Inggris, Australia, Brasil. Tarif Tambahan: 10%. Tarif Dasar: 10%. Total Tarif: 10% + 10% = 20%.
Kalau memperhatikan tarif pada China, Vietnam, dan Indonesia ada tambahan perhitungan yaitu terkait dengan manipulasi mata uang ( manipulate currency ). Memang sulit untuk tahu kebenaran data ini. Karena ini lebih kepada data intelligent currency. Dan AS punya kemampuan untuk tracking adanya manipulasi mata uang yang dilakukan satu negara.
Melemahkan mata uang dalam kondisi undervalue itu Tindakan curang dalam perdagangan international. Bisa membuat produk jadi murah dan punya daya saing di pasar global, yang pada waktu bersamaan memproteksi pasar domestic dari arus barang impor. Jadi walau tarif impor barang dari AS hanya berkisar 7-8% namun kalau dihitung termasuk manipulasi mata uang, itu lebih 50% tarif nya.
karena AS menganut system keuangan terbuka dan transfarance. Tidak mungkin melakukan manipulasi mata uang. Namun karena adanya manipulasi mata uang oleh mitranya, AS dirugikan dalam perdagangan international, dengan ditandai defisitnya neraca perdagangan. Bukan itu saja, akibat manipulasi mata uang, banyak pabrik di AS pindah ke China, Vietnam. Nah, perundingan dagang dengan AS, jadi tidak mudah, Karena ini sudah menyangkut idiologi.
https://babo.cintadankasihsayang.com/2025/04/kenaikan-tarif-trumps.html?fbclid=IwY2xjawJdKPdleHRuA2FlbQIxMQABHjsk-3aSrBsI8ju-lmG715LP2T1S_18IkXdAQh4HQI7LdLgzYC8q3nKZf1Lb_aem_YmZBWjvE7TxgQdbP13hmOQ&m=1