Kemana kita melangkah?
Badan Pusat Statistik mengumumkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2024 mencapai 5,11%. Konsumsi rumah tangga berkontribusi paling besar, yaitu 54%. Akan tetapi, tingkat pertumbuhannya hanya 4,91%. Lucu kan. Konsumsi dibawah pertumbuhan ekonomi. Padahal potensi belanja pada kwartal 1 tinggi. Seperti ekspansi Bansos, Pilpres, Lebaran dan lain lain. Apa artinya? Fundamental ekonomi pasar domestik yang menopang sebagian besar PDB kita memang rapuh.
Makanya jangan kaget walau pertumbuhan ekonomi mencatat naik terus, namun pabrik yang mengandalkan pasar domestik pada bankrut. Tahun ini saja ada pabrik besar yang tutup, yaitu Pabrik ban PT Hung-A Indonesia. Pabrik garmen PT Cahaya Timur Garmindo. PT Sepatu Bata Tbk (BATA) resmi menutup pabriknya di Purwakarta, Jawa Barat per 30 April 2024. Tahun lalu juga ada 8 pabrik yang tutup. Pabrik kecil kecil banyak sekali yang bangkrut tetapi tidak terekspose.
Pasar bebas yang dianut pemerintah memang jadi dilema untuk memacu industri domestik. Karena masuknya barang impor lewat jalan ninja memang telak banget membuat produksi dalam negeri keok. Sulit bagi industri dalam negeri bersaing dengan impor. Walau kurs kita melemah. Tetapi sebagian besar linked produk pabrik berasal dari impor, yang tentu meningkatkan harga pokok dan jadi mahal saat dijual dalam negeri.
Pemerintah berusaha melindungi pabrik dalam negeri. Tetapi caranya kampungan. Misal membatasi impor bahan linked produk. Sementara, linked produk buatan lokal masih sangat mahal dibandingkan impor. Belum lagi delivery nya tidak on time. Supply chain tidak efisien. Ya karena tata niaga nya rente. Membuat pabrik jadi sesak napas. Beli lokal, mahal dan sering telat delivery, dan ini berdampak kepada meningkatnya ongkos produksi.
Kalau anda punya pabrik cerita saya diatas bukan karangan. Itu dirasakan oleh semua pabrik. Apalagi yang andalkan pasar domestik. Benar benar proses bisnis menuju kebangkrutan. Hanya masalah waktu pasti bangkrut. Mending cepat cepat aja tutup daripada derita lebih parah. Gelombang PHK sudah terjadi sejak sebelum COVID, dan ini terus berlangsung membuat banyak pengangguran, dan tentu daya beli jadi drop. Orang pada bokek.
Ya memang pembangunan itu untuk segelintir orang dan mereka yang segelintir ini adalah mereka yang berbisnis dan bekerja pada bisnis yang non tradable atau rente. Tidak ada nilai tambah tekhnologi dan diversifikasi income. Hanya komunitas yang memainkan konsesi bisnis impor pangan, konsesi tambang dan rente yang secure. Para boss nya semakin tajir tapi konsumsi nya di luar negeri, rekening bank nya juga di luar negeri. Sementara Para karyawannya jadi kelas menengah yang semakin lama semakin lemah daya belinya sejak pajak konsumsi dan PPN naik.