Rapat dewan gubernur BI hari ini.
Ekonomi kita bergantung kepada komoditas primer yang bersumber darik Alam. Itu juga yang tercermin dari sebagian besar emiten yang ada di bursa. Kita tahu komoditas primer sangat rentan terhadap volatile market. Kalau harga jatuh di pasar dunia yang kinerja emiten juga jatuh. Saham akan terkoreksi ke bawah.
“ Mengapa ? kan dengan melemahnya kurs justru menguntungkan eksportir SDA. Makin banyak rupiah yang mereka terima. Jadi konflik regional antara israel dan Iran itu berkah bagi eksportir SDA“ Kata teman.
“ Karena bisnis model pengelolaan SDA kita sebagian besar dibiayai lewat skema counter trade. Jadi walau ekspor SDA kita surplus, tetap saja Devisa Hasil Ekspor sebagian besar dikuasai oleh trader di luar negeri. Ya mereka tahan DHE. Ngapain opindahkan ke IDR. Makanya tidak ada perbaikan kinerja secara significat terhadap emiten yang kelola SDA termasuk upstream, downstream, midtream hanya onani saja “ Jawab saya.
“ Tapi saham LQ 45 melejit tuh”
“ Ya itu untuk sementara saja. Karena investor masih wait and see. Mereka mencoba pindah dulu portfolio ke LQ 45. Tetapi nanti pasti mereka out kalau suku bunga acuan BI dinaikan. Tuh lihat IHSG terlihat mengalami tekanan. Pada penutupan pekan kemarin indeks mengalami break down dari support dan berpeluang turun ke 7.000. Kemudian jika IHSG turun lebih dalam hingga melewati area 7.000 maka support berikutnya adalah 6.890.” Kata saya.
Para pelaku pasar semakin pesimis terhadap penurunan tren suku bunga bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve atau The Fed pada 2024. Hari ini dan kamis akan ada rapat dewan gubernur BI. Kalau dalam rangka menahan kejatuhan kurs, suku bunga acuan BI dinaikan. Maka Bursa bisa jatuh. Karena emiten LQ45 akan kesulitan likuiditas dan cost of fund semakin mahal. Daya beli pasar domestik akan melemah. So, sebaiknya BI tidak menaikan suku bunga. Support yang real menahan kejatuhan rupiah ya lewat fiskal. Segera lakukan perubahan APBN dengan menurunkan defisit.