Minyak Rusia

Arsip Terupdate
Berita kemarin menyebut Indonesia meneken kontrak pembelian 150 juta barel minyak dari Rusia. Secara angka, itu setara dengan kebutuhan BBM sekitar 90 hari. Kedengarannya besar. Tapi jangan buru-buru euforia. Itu baru sebatas komitmen. Realisasinya masih panjang—bahkan bisa dibilang mendekati mission impossible. Mengapa? Saya jelaskan sederhana saja, ala pedagang sempak. Pertama. Pembelian minyak Rusia itu terjadi karena adanya pelonggaran sanksi embargo dari AS—dan sifatnya sangat terbatas. Artinya, Indonesia boleh membeli, tapi dengan “syarat dan ketentuan berlaku”. Kita harus paham, dalam logika kapitalisme, tidak ada kebijakan dari kekuatan besar yang gratis. Pertanyaannya, apakah Rusia juga mau mengikuti syarat yang ditetapkan AS? Di sinilah mulai masuk ke wilayah yang tidak mudah. Kedua. Rusia tidak mengenal skema LC berjangka seperti praktik umum perdagangan global. Prinsip mereka sederhana: bayar dulu, baru barang dikirim. Selain itu, Rusia sudah banyak menggunakan settlement berbasis RMB. Masalahnya, pembelian ini ditugaskan ke Pertamina, dan biasanya dijalankan lewat trader. Pertanyaannya: apakah ada trader yang berani menalangi pembayaran di depan tanpa LC? Padahal, bisnis trader itu hidup dari trade financing—yang selama ini sangat bergantung pada sistem keuangan Barat. Sementara sistem RMB dan rubel belum seinklusif itu. Ketiga. Soal logistik. Dari mana kita dapat kapal tanker ukuran VLCC dalam waktu cepat? Kalau pakai tanker kecil, untuk mengangkut 150 juta barel bisa makan waktu hampir satu tahun. Lalu pertanyaan berikutnya: disimpan di mana? Kapasitas storage Pertamina saat ini hanya cukup untuk sekitar 22 hari stok. Sementara volume yang dibeli setara 90 hari. Ini mismatch yang tidak kecil. Keempat. Yang dibeli itu crude oil, bukan BBM jadi. Artinya, tetap harus diolah di kilang. Masalahnya, tidak semua crude Rusia cocok dengan spesifikasi kilang domestik. Akibatnya, kita tetap butuh kilang pihak ketiga—seperti Singapura. Di sini kita akan berhadapan langsung dengan kompetisi global, terutama India, yang juga agresif menyerap crude Rusia dan perlu kapasitas refining besar. Dengan empat faktor ini, sebenarnya persoalannya bukan karena minyaknya tidak ada. Hambatannya ada di struktur transaksi, pembiayaan, logistik, dan kapasitas hilir. Tambahan lagi, kita juga perlu jujur melihat kondisi internal. Cash flow Pertamina sering terlihat kuat di permukaan, tapi di bawahnya tidak se-solid itu. Inilah yang bertahun tahun sering saya dan publik kritik, tetapi pemerintah bebal. Berpikir seakan dunia akan terus baik baik saja sehingga aman tergantung dengan pihak lain.