KEMBALI
Dashboard.
Survival mode
Arsip Terupdate
Siap siap masuk jurang Ada perubahan bahasa yang menarik dalam pembicaraan ekonomi Indonesia. Pemerintah dan DPR semakin sering berbicara tentang kehati-hatian fiskal, risiko pembiayaan, kenaikan yield, volatilitas global, dan pentingnya menjaga kepercayaan investor. DPR bahkan mengingatkan bahwa pada 2027 pemerintah masih menghadapi pembayaran pokok dan bunga utang yang besar, bersamaan dengan kebutuhan menerbitkan utang baru. Apa artinya? , memang negeri ini hanya bisa tumbuh karena hutang. Ketergantungan itu sudah soal hidup mati. Engga berhutang ya mati. Dalam bahasa ekonomi disebut ketergantungan pada eksternal. Tidak ada kedaulatan sesungguhnya. Saat situasi likuiditas semakin mahal, tidak terdengar lagi fundamental kita kuat. Tidak akan terdengar pertumbuhan 8%. Tidak akan terdengar tahun 2045 Indonesia emas. Kedepan yang ada hanya hidup survival mode. Ruang manuver berbuat salah atau akrobat kebijakan sudah sangat terbatas. Ibarat berjalan di tepi jurang. Slip sedikit masuk jurang. Bank of japan sudah menaikkan suku bunga dan sebentar lagi The Fed akan naikan suku bunga. Jadi Indonesia sekarang berpotensi menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus: Amerika menawarkan risk-free yield dolar yang semakin tinggi, sementara Jepang tidak lagi menyediakan uang semurah dahulu. Dan BI sudah menunjukkan respons terhadap mekanisme ini. Pada Juni BI menaikkan BI Rate menjadi 5,50%, secara eksplisit antara lain untuk stabilisasi rupiah dan meningkatkan daya tarik investasi portofolio. Dalam lelang SRBI 11 September, bahkan bid untuk tenor 12 bulan mencapai 6,85–7,30%. Itu menunjukkan harga mempertahankan rupiah juga semakin mahal. Ketika risk-free rate dunia naik, negara dengan kebutuhan refinancing dan pembiayaan besar seperti Indonesia tidak lagi bebas menentukan berapa harga modal yang ingin dibayarnya. Pasarlah yang semakin banyak menentukan harga itu. Ngga juga paham keadaan ini untuk berhemat dan stop korupsi, siap siap masuk jurang.