Kafe itu tidak terlalu ramai sore itu. Saya masuk dan perhatian saya langsung tertarik pada seorang wanita yang duduk di pojok dekat jendela. Ia berusia belum 30. rambut sebahu, mengenakan blus sederhana. Tidak banyak aksesori, tidak ada gestur mencari perhatian. Tapi sorotan matanya—hening, fokus, menyatu dengan layar laptopnya—membuat siapapun bisa menebak bahwa ia sedang mengerjakan sesuatu yang lebih serius dari sekadar browsing.
Saya memilih duduk tidak jauh darinya. Tidak disengaja—atau mungkin memang ada sesuatu dari aura dirinya yang membuat saya ingin berada dalam radius keheningan itu. Beberapa menit berlalu. Ia tidak menoleh, tidak mengecek ponsel, tidak memesan tambahan. Hanya jari-jarinya menari cepat di keyboard, seperti sedang mengejar sesuatu yang tak ingin tertangkap.
“Kerja berat ya?” tanya saya ketika ia akhirnya berhenti, menarik napas, dan menutup sedikit layar laptopnya.
Wanita itu menoleh sebentar, tersenyum halus. “Lumayan. Lagi analisis bursa saham “
Saya tertegun. Jawaban yang tidak saya duga dari seseorang di kafe kecil seperti ini.
“Oh? Finansial?” tanya saya.
“Ya,” katanya “ saya baca berita tentang dana tax-haven yang masuk ke Indonesia. Kenapa sih semua ekonom ribut? Bukannya bagus ya, ada uang masuk?”
Saya tersenyum kecil. Pertanyaan seperti itu terlihat sederhana, tetapi jawabannya bisa menjelaskan nasib makro ekonomi sebuah negara.
“Dik “ kata saya pelan, “kamu tahu kan bedanya hubungan serius dan hubungan main-main?”
Dia tertawa. “Tahu dong. Yang satu bikin kita bangun rumah, yang satu bikin kita bangun masalah.”
“Persis,” jawab saya. “Dana tax-haven itu kayak hubungan main-main. Datang cepat, pergi lebih cepat. Dan kalau pergi, kita yang pusing.”
Ia mengernyit. “Maksudnya?”
Saya mencondongkan tubuh, menepuk meja ringan.
“Begini. Banyak dana yang masuk ke Indonesia lewat tax-haven itu bukan investasi jangka panjang. Bukan buat bangun pabrik, bukan buat rekrut tenaga kerja, bukan buat teknologi. Itu cuma uang layering. Uang numpang lewat lewat pasar modal.”
Dia berhenti memutar bolpoinnya. “Layering? Kayak pencucian uang?”
“Bukan selalu ilegal,” jawab saya. “Tapi sifatnya sama: uang itu hanya transit. Masuk lewat perusahaan cangkang di Singapura, Hong Kong, atau British Virgin Islands. Tujuannya cuma dua yaitu arbitrase pajak atau cari keuntungan cepat.”
Ia mengangguk, mulai menangkap arah pembicaraan.
“Terus efeknya apa buat ekonomi kita?” tanyanya.
“Saya kasih ilustrasi,” kata saya. “Bayangkan kamu punya pacar yang tiap hari beri kamu uang.. Kamu senang, kamu bisa shoping, kamu jadi merasa hidupmu lebih baik.”
Dia tersenyum . “Terus?”
“Pada satu hari pacarnya hilang. Kamu jadi bingung. Kamu sudah terbiasa makan enak, sudah terbiasa ramai, tapi sebenarnya hidupmu tidak berubah. Cuma tertipu suasana. Itu yang terjadi dengan ekonomi kita.”
Dia menatap saya lama.
“Jadi… uang itu bikin ekonomi kita kelihatan sehat padahal rapuh?”
“Ya.” Saya mengangguk pelan. “Statistik tampak cantik. Arus modal masuk naik. Indeks saham naik. Rupiah keliatan stabil. Tapi semuanya kosmetik. Tidak ada kapasitas industri yang bertambah. Tidak ada ekspor baru yang tercipta. Tidak ada produktivitas yang membaik.”
“Dan kalau uang itu keluar?” tanyanya , kini dengan suara lebih serius.
Saya menatap keluar jendela. Jakarta terlihat seperti papan catur raksasa yang selalu bergerak tetapi tidak pernah menyelesaikan permainan.
“Kalau dana itu keluar,” jawab saya, “rupiah bisa jatuh, pasar modal bisa anjlok, suku bunga naik. Bank Indonesia repot. Pemerintah panik. Pedagang kecil, perusahaan besar, buruh, semua kena imbas.”
“Sebesar itu dampaknya?”
“ Dik ,” kataku sambil menatapnya, “Indonesia ini seperti rumah yang kelihatannya megah dari luar, tapi sebagian fondasinya diinjak-injak oleh air yang datang dan pergi tanpa kendali. Dana tax-haven itu air pasang. Bila naik, kita terlihat makmur. Bila surut, kita terlihat telanjang.”
Ia terdiam, memikirkan kalimat itu.
“Jadi solusinya apa?” katanya setelah beberapa detik.
“Pilih investasi serius, bukan hubungan main-main,” jawab saya. “Perkuat industri, tarik modal jangka panjang, buat ekonomi berdiri di kakinya sendiri. Kalau rumah mau kokoh, jangan bangun dari air—bangun dari batu.”
Dia tersenyum tipis, lalu mengangkat cangkir kopinya.
“Terima kasih Pak,” katanya. “Penjelasan begini yang jarang saya dapat di buku.”
Saya tersenyum balik.
“Buku mengajarkan teori, Dik. Tapi pasar—dan negara—selalu mengajarkan kenyataan.”
Dia acungkan jempol. “‘Pelajaran berharga dari Bapak. Mulai sekarang saya harus tegas dengan pria yang PDKT saya. Mau serius ? Atau main main ? Engga butuh duit mudah! Butuhnya long term commitment “ katanya. Saya ikut acungkan jempol. Dia tanya nomor hape, saya senyum saja. Dan bayar bill sekalian bayar bill dia. “ saya mau sholat maghrib. Tetap semangat ya” kata saya berlalu