fundamental rupiah

Arsip Terupdate
Apa sih yang dimaksud dengan fundamental rupiah ? tanya Ira. Saya senyum aja. Karena sulit menjelaskannya kalau tidak tahu apa esensi dari uang itu sendiri. Tapi okaylah saya jawab. Tapi sebelumnya saya jelaskan dulu apa itu uang. Uang adalah alat tukar. Dulu sekali, orang tidak mengenal uang. Pertukaran dilakukan dengan barter. Contoh kain sutera ditukar dengan emas. Cengkeh ditukar dengan perak. Maklum emas dan perak adalah sumber daya langka. Jadi nilai tukarnya tinggi. Kemudian berlalunya waktu manusia bertambah, kebutuhan meningkat. Perpindahan orang dari satu tempat ke tempat lain semakin sering. Orang tidak mungkin bawa emas kemana mana untuk berdagang. Kan bahaya dirampok. Kemudian muncul lah alat tukar uang tapi linked dengan emas. Jadi kemana mana yang dibawa bukan emas tetapi lembaran kertas. Itu Namanya Gold Standard. Yang mengelola gold standard ini adalah negara. Tapi lama lama public jadi curiga. Yang mananya negara kan cenderung boong dan korup. Apa lagi uang kertas terus bertambah. Apa iya dibalik uang itu ada emasnya. ? Publik lakukan rush emas di pasar. Ternyata benar, uang kertas itu tidak ada emasnya. Gold standard mata uang jatuh. Orang ogah pegang uang lagi. Lebih milih pegang emas. Kemudian diganti dengan uang fiat. Ukurannya bukan lagi emas, tetapi kekuatan fundamental mata uang. Sejak itulah fundamental mata uang jadi ukuran menentukan kurs. Secara eksternal fundamental kurs diukur dari selisih asset Financial luar negeri daripada kewajiban financial Luar negeri. Apabila positif, itu kurs stabil. Tapi kalau negative ya kurs tidak stabil. Tapi kalaupun secara ekternal negative namun factor internal positif, ya tidak ada masalah. Yang jadi masalah di Indonesia. Faktor eksternal kita negative dan internal juga negative. Itu kan APBN pun defisit. “ OK factor eksternal sulit diatasi. Karena udah kadung utang ke luar negeri. Terus apa solusi nya agar rupiah stabil ? “ Ya kalau factor eksternal tidak bisa diatasi, ya perkuat internal dengan penggal APBN sampai 30%. Jadi APBN surplus. Pasar akan berekasi positif. Rupiah pasti stabil. Kalau rupiah stabil, orang juga berani invest jangka Panjang. FDI akan meningkat dan orang kerja, dan tentu pajak akan meningkat. Inflasi real jadi terjaga. “ kata saya. “ Ale, enak banget cara lue jelasin. Padahal masalah fundamental kurs itu tidak mudah dicerna. Sangat rumit.” “Karena lue kan S3 dari Harvard. Cara berpikir lue akademis banget. Gua hanya pedagang. Cara berpikir gua praktis aja. Apa yang gua alami, itu yang gua pikirkan dan lakukan. Ya akal sehat aja“ Kata saya. " Kok pedagang lebih paham daripada pemerintah dan akademis? " Kalau pemerintah pintar kan pedagang engga bisa kontrol pemerintah. Dimana mana begitu. . Noh lihat aja. Laut dipatok engga ada yang berani tunjuk hidung ke pedagang. Antar pemerintah malah saling menyalahkan. " Kata saya.