KEMBALI
Dashboard.
Negeri yang Sibuk Memindahkan Uang
Arsip Terupdate
Saya kadang bertanya, pemerintah sebenarnya sedang membaca perekonomian, atau hanya membaca angka-angka yang ingin dibacanya. Ketika bicara keberhasilan pembangunan, penduduk miskin tinggal sekitar 23 juta. Tetapi ketika bansos hendak dibagikan, muncul 50 juta masyarakat “termiskin”. Rupanya orang miskin kita mempunyai kemampuan luar biasa: menyusut ketika pidato keberhasilan, berkembang biak ketika anggaran dibuka. Sekarang bansos hendak dibuat digital. Bagus. Teknologi memang dapat mengurangi kebocoran. Tetapi kalau salurannya semakin diarahkan kepada satu bank negara, persoalannya berubah. Bank bukan sekadar loket pembagian uang. Di sana ada dana murah, nasabah, transaksi, cross-selling, dan kekuatan pasar. Jangan sampai atas nama efisiensi, negara menciptakan kompetisi perbankan dengan prinsip sederhana: semua bank boleh berlomba, tetapi pemenangnya sudah ditentukan sebelum pistol start berbunyi. Di tempat lain, uang negara ditempatkan di Himbara agar kredit bergerak. Keuntungan BUMN dan Danantara kemudian diharapkan ikut menopang fiskal. Dana pemerintah daerah pun terus diperdebatkan karena dianggap terlalu banyak menganggur di bank. Akhirnya uang seperti sedang mengikuti permainan kursi. Dari pemerintah pindah ke bank. Dari bank diharapkan menjadi kredit. Dari keuntungan BUMN ditarik kembali kepada negara. Dana daerah ditanya mengapa masih diam. Semua sibuk memindahkan uang, seolah-olah memindahkan likuiditas sama dengan menciptakan produktivitas. Padahal di luar gedung kementerian, dunia sedang memberikan ujian yang jauh lebih keras. Minyak sudah menembus US$100 per barel. Yield obligasi global melonjak. Modal menjadi semakin mahal. Inflasi energi kembali mengancam. Negara-negara berkembang harus menawarkan premi semakin besar agar uang tidak pulang ke pasar maju. Dalam keadaan seperti itu Indonesia membutuhkan sesuatu yang lebih penting daripada rekayasa likuiditas: kepercayaan terhadap institusi dan konsistensi kebijakan. Pasar mempunyai sifat kurang sopan. Ia tidak wajib percaya konferensi pers. Ia membaca rupiah. Ia membaca CDS. Ia membaca yield SBN. Ia membaca arus modal. Dan terutama, ia membaca apakah aturan permainan masih dapat diprediksi. Karena kejujuran informasi ekonomi tidak boleh ditutupi awan narasi, apalagi teori konspirasi. Kalau ekonomi melemah, katakan melemah. Kalau masyarakat rentan ternyata jauh lebih banyak daripada angka kemiskinan resmi, jelaskan perbedaan definisinya. Kalau bank BUMN mendapat mandat khusus, jelaskan tujuan, biaya dan risikonya. Sebab krisis biasanya tidak dimulai ketika negara kehabisan uang. Ia mulai ketika orang bertanya “ Apakah saya masih percaya pada sistem ini?”