industrialisasi penguasaan sains

Arsip Terupdate
Industrialisasi penguasaan sains Revisi UU Minerba. Saya pernah diajak teman diskusi soal Rencana Perubahan keempat UU Minerba. Dari awal saya dengarnya, rasanya perut saya mules. Karena yang saya dengar adalah begitu kentalnya bahasa populis. Seakan mereka sangat peduli dengan koperasi, akademis, ormas yang harus jadi pemain tambang. Harus ikut menikmat SDA. Karena mereka juga bagian dari anak bangsa yang berhak menikmati kemerdekaan. Tapi saya tetap tenang aja. Menyimak aja. Di depan politisi, anggap kalau mereka bicara seperti ibu mengantar anak tidur. Memang tujuannya agar kita tertidur dan terbawa mimpi aja apa yang diceritakan. Saya akhirnya tersenyum. “ Gimana pendapat Pak Ale.” Tanya teman. Nah kan saya diberi kesempatan omong. Apakah saya harus berbicara seperti politisi? Ah tidak. Sejak usia 30an saya sudah jadi pedagang yang tidak punya tambang batura dan nikel atau timah. Lewat skema offtaker yang saya dapat dari pembangkit listrik di Korea, Jepang, dan China, saya control pemilik IUP dimana saja. Bukan hanya di Indonesia tetapi juga di Mongolia, China, Ausi. Semua hanya permainan paperwork. “ Ok saya akan berpendapat “ kata saya. Sekarang saya harus bicara apa adanya. Setidaknya usia menua harus membuat saya bijak. “ SDA bagi negara berkembang ada dua. Pertama, financialisasi SDA. Kedua, Industrialisasi. Apa itu financialisasi, menjadikan SDA sebagai sumber daya keuangan meningkatkan PDB. Walau programnya sangat akademis dan tentu dengan syarat ideal namun dalam prakteknya memang hanya uang. Makanya tidak peduli bagaimana SDA itu diolah. Tidak peduli soal lingkungan. Tidak peduli masa depan. Yang penting hari ini. Dalam konteks financialisasi SDA, ini sebagian besar SDA minerba dijual ke luar negeri untuk kepentingan industry mereka. Coal Thermal untuk menggerak-kan mesin pabrik orang Jepang, Korea, China. Mineral tambang untuk menumbuh kembangkan industry downstream sampai ke konsumen akhir mereka. Kalau nilai tambah industry dari SDA itu 10 kali lipat, kita hanya kebagian 2 kali. Kalau dihitung dari kerusakan lingkungan, kita sebenarnya tekor. Mengapa begitu ? karena yang dapat konsesi IUP bukan pedagang yang punya mindset industry. Semua adalah broker alias rente alias numpang makan dengan trader yang menguasai sumber daya keuangan dan market. Itulah yang terjadi selama ini di Indonesia. Apakah ini yang akan dilanjutkan? Karena dari tadi yang dibahas hanya pasal 56 dari UU Minerba. Artinya rezim financialisasi SDA terus berlanjut“ Kata saya. “ Ok lah. Terus yang kedua. SDA untuk industrialisasi apa itu ? tanya mereka. “ Tahun 2013 saya pernah ke Taheran. Mereka punya harta karun yang sangat besar. APa itu? Logam tanah Jarang atau RRE. Saat itu saya tawarkan memberikan offataker dari China senilai USD 200 miliar selama 5 tahun. Semua investasi Riset penguraian RRE dan smelter China tanggung. Plus iran juga dapat soft loan setiap tahun USD 20 miliar. Konsorsium Perancis juga menawarkan hal yang sama, bahkan berjanji akan lobi AS ikut dalam konsorsium agar Iran lepas dari embargo. Tetapi Iran menolak. Padahal saat itu mereka sedang kesulitan devisa dan ekonomi morat marit karena embargo AS. Tahu mengapa iran menolak? Saya ketemu presiden nya? Dia katakan. Agama islam melarang penggunaan SDA yang merusak tanpa memberikan manfaat lebih. Nah manfaat lebih itu ditafsirkan oleh Iran adalah Industrialisasi. Kata kunci industrialisasi adalah penguasaan sains. Sains itu bukan sekedar lembaran kertas. Tetapi riset terapan yang didukung ekosistem. Nah kami sedang focus ke ekosistem itu agar riset industry berkembang. Memang tidak instan. Butuh waktu yang tidak sebentar. Engga apa apa. Kami istiqamah saja. China bisa, kenapa kami engga bisa. Bukankah pembangunan itu bukan hanya untuk satu generasi saja, tetapi estapet ke generasi berikutnya. Demikian katanya kira kira. “ kata saya. Mereka terdiam. “ Kini Iran sudah berhasil menemukan 8 unsur RRE dari 12 unsur yang ada. Rencana tahun ini mereka mulai ekstraksi sendiri. Itu akan mengubah lanskap bisnis semikondutor dan new energi bagi dunia. “ Kata teman. Saya diam saja. Bubar dah diskusi. Mereka engga suka orang berbeda dalam diskusi. Ya udah saya juga pulang. Wong diundang.