Harga ketakutan

Arsip Terupdate
“B, bisa bicara?” suara George dari London masuk lewat SafeNet. “Ya, ada apa?” jawab saya, sambil menemani cucu bermain di mall. “Coba lihat berita. Katanya ada dua kapal perang AS masuk Selat Hormuz.” Saya langsung membuka layar notepad dan mengecek. “Saya sudah pantau lewat satelit Baidu. Tidak ada pergerakan kapal perang AS di Selat Hormuz. Bahkan koordinat yang mengarah ke sana pun kosong,” kata saya cepat. Di ujung sana, George terdiam sejenak. “Maaf, B. Saya hanya khawatir. Posisi kargo kita di laut ada 15 juta barel. Situasi perang Teluk seperti ini selalu bikin saya tegang.” Saya menarik napas pendek, lalu menjawab tenang, “ Tidak perlu khawatir. Kamu fokus saja kerja. Itu semua risiko saya—karena itu keputusan saya.” “Siap, B.” Saya belum menutup komunikasi. “George.” “Ya, B.” “Ada update?” “B… ada buyer masuk. Mereka mau ambil cargo kita di laut. Tapi…” ia berhenti sejenak. “Tapi apa?” “Harganya… mereka berani bayar 150% di atas market.” Saya diam beberapa detik. Bukan kaget—tapi menghitung. “Siapa buyer-nya?” “Middle desk. Kemungkinan lewat proxy. Mereka minta cepat. Window sempit.” Saya langsung mengerti. Ini bukan sekadar transaksi. Ini situasi. “Oke. Kita jalan. Tapi dengarkan baik-baik.” “Siap, B.” “Kita tidak kejar harga lagi. Kita kejar certainty dan security. Dengan harga seperti itu, berarti mereka yang butuh—bukan kita.” “Understood.” “Langkahnya begini. Pertama. Lakukan transaksi lewat API terminal P2P. Kalau engga, minta mereka keluarkan Proof of Fund (POF) dan bank instrument yang jelas. Minimal standby LC dari bank tier-1 atau cash-backed. Tidak ada itu—deal batal. Kita tidak main cerita. Kedua. Kita lakukan title transfer di laut, bukan di pelabuhan. Ownership pindah saat STS (Ship-to-Ship). Begitu transfer selesai, semua risiko berpindah ke mereka. Ketiga. Setup STS di area aman di west India corridor. Kita tidak mau masuk headline geopolitik. Keempat. Semua dokumen harus clean dan ready. Tidak boleh ada celah untuk dispute.” Kata saya. “Siap.” Saya lanjut, lebih pelan. “Kelima. Pricing 150% itu kita terima. Tapi pastikan mereka commit cepat. Kita kasih time limit. Kalau mereka tarik-ulur, kita keluar. Jangan sampai kita jadi pihak yang terjebak.” “Copy, B.” “Dan terakhir—begitu deal confirm, kita langsung hedge di paper market untuk lock margin. Saya tidak mau ada exposure terbuka walau sesaat.” George menarik napas panjang. “ Understood, B. Ini besar.” Saya tersenyum tipis. “George… dalam kondisi seperti ini, harga bukan lagi soal supply-demand. Ini soal siapa yang lebih takut kehabisan.” “ Yes Sir. “ “ See you then..’ Saya tutup telp. Kembali jaga cucu.