Konsep PDB

Arsip Terupdate
“ Wah Ale, Indonesia masuk rangking 8 negara terbesar soal PDB. Itu prestasi hebat dan kita punya hope sebagai negara maju.” Kata Herman kemarin saat kami nongki di café. “ Konsep PDB itu sudah jadul sejak diperkenalkannya ESG. “ kata saya sekenanya. “ Banyak negara maju seperti AS, Eropa, Jepang, China, Korea sejak beberapa tahun lalu melakuan perubahan orientasi ekonomi. Dari growth kepada degrowth.” Sambung saya. “ Loh kok begitu ? kok anti pertumbuhan? “ Pengertian degrowth disini bukan anti pertumbuhan. Tetapi anti pertumbuhan dengan konsep PDB. Lebih tepatnya degrowth adalah pertumbuhan inklusif. Yang secara kualitatatif dirasakan keadilan bagi semua. “ Kata saya. “ Ah Man, ngerti lue apa yang diomongin ale. Yakin gua lue kagak ngerti.” Kata David. Abeng tersenyum saja sambil udut. “ Ya kenapa? Tanya Herman. ? Kan ukuran pertumbuhan yang disepakati sebelumnya oleh ekonom adalah PDB. IMF juga begitu sebagai acuan menilai Kesehatan ekonomi negara.” Lanjut herman argument. “ Teorinya pertumbuhan PDB merupakan ukuran data tahunan barang dan jasa yang dapat dipertukarkan di suatu negara.Tetap aja misleading. Bahkan PDB per kapita, yang merupakan ukuran yang lebih baik daripada PDB bruto karena memperhitungkan jumlah penduduk di negara tersebut, juga misleading untuk mengukur tingkat kesejahteraan. Tahu apa sebab? Kelemahan utama PDB per kapita adalah mengabaikan dimensi distribusi PDB” Kata saya. “ Engga ngerti gua” Kata Herman. “ Nih gua jelasin. “ Kata Abeng.” Misal, di Indonesia, 1 orang berpenghasilan USD 5 juta per tahun. 99 orang berpenghasilan USD 5000 per orang/tahun. Sementara Singapore. Penghasilan 1 orang USD 1 juta tapi 99 orang berpenghasilan USD 90.000/ prang. Karena Populasi penduduk Indonesia lebih besar dari Singapore dan tentu PDB Indonesia lebih besar dari Singapore. PDB Singapore USD 500 miliar dan Indonesia USD 1,4 trilun. Tetapi jelas distribusi kesejahteraan Singapore jauh lebih tinggi. Paham lue” Kata Abeng. “ Jadi apa dong ukuran kemakmuran negara kalau bukan PDB” tanya Herman. “ Ukuran yang masuk akal ya Human Development Index atau HDI. Nah menurut Global HDI tahun 2023, Indonesia menempati peringkat 114 dari 193 negara. Padahal dalam hal PDB kita peringkat 8. “ Kata saya tersenyum. “ Ya kenapa bisa begitu timpang antara PDB dan HDI ?“ “ Sifat PDB adalah financialiasi sumber daya yang tidak memperhitungkan kerusakan lingkungan. Kalau kerusakan lingkungan sebagai diskont terhadap PDB, Indonesia tidak masuk 8 besar PDB dunia tetapi mungkin 20 pun tidak. “ Kata David. Saya, abeng senyum aja ngelihat Herman bengong. “ Jadi selama ini gua dibegoin ekonom” Kata herman. “ Bukan dibegoin, tetapi lue memang bego. Tajir dari bisnis rente itu merusak akal sehat. “ Kata David. “Ah lue orang juga main bisnis rente.” Kata herman sewot. “ Ah kita kita bisnis rente hanya iseng aja. Income nya hanya untuk uang kenakalan. Engga bawa pulang tuh duit. Karena Bisnis real kita bagus kok. Cuan terus. Siapapun presiden EGP aja.“ Kata Abeng tersenyum…